Halo !!! Saya Tatik Hartanti, ini adalah blog tentang Catatan Kecil Saya

Es Tung, Pengingat Masa Lalu

Selamat malam ^_^
Alhamdulillah, beberapa hari dapat rejeki kenikmatan dari Allah berupa sakit. Tandanya Allah sayang kepadaku, hihihi :). Serangan batuk pilek mulai menyerbu orang rumah, yang tadinya benteng pertahanan saya kuat akhirnya roboh juga karena tidur terlalu malam.

Nikmat Allah yang satu ini memang datangnya musiman, ketika cuaca tak bersahabat kapan saja bisa terjangkit. Harus minum obat?? Iyuhhh…. Males sekali rasanya. Ehh tapi kok dulu seneng banget nyaranin orang minum obat secara rutin iya, hihihi jadi malu. Tapi kalau nda diminum nda bakal sembuh-sembuh juga sih.

Berawal dari radang tenggorokan hingga batuk merupakan perjalanan sakit yang terus mendatangi saya, iyah mungkin karena daya tahan tubuh mulai menurun. Tapi walaupun batuk, keinginan minum es muncul tiba-tiba.

Kemarin sore ingin sekali minum es cream, tapi kok rasanya was-was kalau tambah batuk gimana?. Kuurungkan niatku sajalah. Diganti sesi dengan menjemput mamah diacara sedekah bumi desa saya. Iyah namanya orang sepuh kalau ada tontonan pasti hayukk saja, apalagi yang namanya “Ketoprak”. Jika memang dekat rumah, mamah tak pernah ketinggalan.

Es tung
 Es tung saya bikin ngiler :)

Yang ditonton paling saat “Dagelan” kalau bahasa indonesia sih sepertinya sesi “Ngelawak”. Kalau udah nonton sesi ini, pasti deh tawanya akan lebar, hehehe.  Sampainya di lapangan tempat acara di gelar, tengok kanan kiri mencari mamah nda ketemu, tiba-tiba mata melirik ke arah penjual es tung.

Godaan…oh godaan kenapa kamu datang dan menggoda, hihihihi. Matapun tak lagi mampu menolak untuk melihat penjual es tung itu. Oh iya… ada yang belum tau es tung itu apa? Rasanya seperti es cream, lembut diwadahi cup kecil dengan tambahan buah nangka, mutiara dan roti tawar iris kecil. Lebih ngetrend dengan sebutan es dung-dung.

Jajanan ini favorit saya waktu SD, setiap pagi dihari libur pasti deh dengan setia menunggu penjualnya di belakang rumah. ketika mendengar suara “ tung,,,tung.. tung..” dari seberang jalan, segera saja saya berlari ke  arah suara itu berasal sambil membawa gelas plastik dengan uang seribu, anak kecil banget deh.
Ini nih Bapak penjual es tung langganan saya :)
Dan penjualnya pun sudah hafal betul, tanpa tanya beli berapa? Langganan… hahahaha. Tak pikir panjang, buang gengsi karena sekeliling banyak orang memandang saya mah cuek aja, butuhnya cuman  membeli es tung dan menikmatinya kok. Selepas itu baru deh nyari mamah lagi, tanya tetangga kanan kiri akhirnya ketemu juga dengan mamah.

Soal harga sepadan lah dengan rasa yang disuguhkan, segelas es tung cup dengan harga Rp. 2.000,00. Kalau dulu masih zaman sekolah paling cuman Rp. 500,00 saja. Tapi itu sudah 13an tahun yang lalu lho, jadi wajarlah kalau saya bilang. Apalagi sekarang apa-apa mahal, mulai dari susu, kelapa, nangka, dan bahan pelengkap lainnya.

uhh... nda mau lepasin sendok es tungnya :D

Hari sudah sore, kunikmati dengan segelas es tung di samping rumah sembari melihat tumbuhan sekitar yang sedang semi. Udaranya sejuk tapi tak lagi menyehatkan. Kenikmatan yang mungkin tak bisa diulang dilain waktu ini benar-benar membawa hati dan perasaanku semakin larut dalam keindahan kuasa sang Ilahi.

Sekecil apapun kenikmatan itu jika kita bersyukur, InsyAllah akan mendatangkan kenikmatan lain yang lebih nikmat.