Halo !!! Saya Tatik Hartanti, ini adalah blog tentang Catatan Kecil Saya

Perang melawan kepiting :)

Wah perang ? senjatanya apa saja iya ? harus punya jurus jitu dong iya. Biar menang  :) .  Tapi kalau saya cukup bersenjatakan tutup panci :D

Bermula dari keinginan si kucel akan masakan dari kepiting , memang merupakan tantangan terbesar untukku. Kok bisa ? kepiting bisa dikatakan juga musuh terbesar , galaknya luar biasa si kepiting , pokoknya yang ter- dalam artian tidak suka, atau hal ini cuman perasaan saya saja?

Ketidaksukaan diriku kepada kepiting bukan tanpa sebab, hal itu terjadi karena dari kecil memang tidak terbiasa makan ikan. Jangankan makan ikan, mencium aromanya saja saya suka uring-uringan, jika jaraknya lebih dekat lagi dapat dipastikan dalam hitungan detik saya langsung muntah, terlebih lagi jika ada seseorang makan ikan di samping saya, tak sungkan segera mengusirnya, atau saya segera pergi dari sisinya.

Ketidaksukaan ini bukan hanya berjalan setahun, dua tahun, bahkan sampai menginjak umur 20 tahun kemarin saya pun masih tidak menyukai ikan. Alhasil.. berat badan pun di bawah ideal :( , dibilang kurus itu sebuah beban terbesar, iya bagaimana tidak kurus? Kalau makan ikan saja jarang. Padahal peran penting ikan dalam tubuh kita juga sangat dibutuhkan.

Kadang saya merenung dan berfikir, sampai kapan ketidaksukaan ini? . hal ini juga membuat seseorang di sana selalu berceloteh mengingatkan saya akan pentingnya ikan untuk kebutuhan gizi dalam tubuh. Beberapa kalimat yang membuat hati ini cepat berontak, dan ingin segera makan ikan.

" De’, seorang wanita nantinya akan dikaruniai kado terindah, yaitu hamil. Kalau lagi hamil tentu si janin tidak bisa makan sendiri kan? Asupan makanan si kecil itu berasal dari seorang ibu lho, kalau ibunya cuman makan tahu, tempe, telur bagaimana  dengan tumbuh kembang si kecil? Emang mau dede’ kecilnya nanti kurang nutrisi ?."

Ketika ku urungkan keinginan untuk makan ikan, selalu saja ingat akan pesan itu.  Paling tidak sampai saat ini sudah mencoba makan ikan, berawal dari ikan bandeng dan munjair. Iya walaupun sedikit sih ,, hehehe

Kembali ke kepiting, Sebuah tantangan dari si kucel tetap harus dijalankan, akhirnya di hari minggu kemarin saya diantar ke pasar. Tujuannya hanya untuk membeli kepiting saja, tidak ada yang lain. Itu artinya, mau tidak mau nantinya saya juga harus lauk kepiting  dong, aduhh… baru beberapa hari makan ikan, ini udah harus naik tingkatan, tidak lain adalah makan kepiting, saat itu saya benar-benar ingin teriak .. tidaakkkk !!

Sesampainya di rumah, saya bertanya-tanya bagaimana cara mengolah kepiting hidup-hidup? Akhirnya saya meminjam smartphone milik si kucel untuk mencari cara mengolah kepiting yang benar dan dagingya tidak kopong.


Paling ngeri itu dengan kedua cupitnya, dan ketakutan mulai melanda. Tali pengikat kedua cupit mulai ku lepas, dan si kepiting lepas kesana kemari, aduh… bulu kuduk saya merinding, kalau kena cupit pasti memar. Di tengah-tangah kebingungan saya melihat tutup panci, dan langsung saja si kepiting saya tutup pake tutupan panci :) , ciat... ciat... ciat .. hahaha berhasil juga :) .

Si kepiting mulai menyerah, segera saja ku masukkan ke dalam panci untuk merebusnya barang sebentar ke dalam air yang sudah diberi sedikit jahe yang dimemarkan sebelumnya. Menurut sebuah artikel yang saya baca tadi, pemberian jahe ini katanya untuk menghilangkan bau amis si kepiting. Tapi memang benar sih, bau amisnya tak lagi beraroma, ini yang saya suka.

Bumbu mulai saya racik dan ulek, lebih memilih mengulek daripada harus menghaluskannya dengan blender. Karena cita rasanya akan berbeda, atau mungkin itu hanya perasaan saya saja :) hehehehe . Dan karena perjuangan, akhirnya si kepiting lada hitam pun siap dinikmati.



“Wah, mantep lek (sambil mengangkat jempol) , sesok nggawe iki neh iyo lah, tak ntekno ne” kata si kucel .

Senangnya itu di sini, baru pertama kali masak, langsung disukai. Capek memasaknya langsung hilang :)

Memang benar kok, sebuah usaha yang dilakukan dengan kerja keras dan ikhlas itu mendapatkan nikmat yang luar biasa. Belajar dari hal kecil hari minggu kemarin, dari saya yang tidak bisa mengolah kepiting sama sekali, kini menjadi sepiring kepiting lada hitam yang yummy , kata mereka pencicip masakan saya :)
Untuk sahabat yang tidak suka ikan seperti saya, ayolah mencobanya dari secubit daging ikan saja, lama kelamaan nanti juga akan suka sendiri. Intinya, memang ada dalam diri kita kok, kalau kita mau berusaha menghilangkan ketidaksukaan itu, rasa itu akan terkikis dengan sendirinya.

Untuk yang di sana, terima kasih atas semua nasihatnya yang banyak bermanfaat untuk ke depannya :)