Halo !!! Saya Tatik Hartanti, ini adalah blog tentang Catatan Kecil Saya

Bapak Tukang Becak yang Berbeda

Kalau ditanya pernah naik becak atau belum? Pasti banyak yang jawab sudah iya :)  . Soal tarif becak bagaimana?

Pagi tadi, seperti biasa tak lengkap rasanya kalau mau memasak tanpa berkunjung ke pasar, padahal hanya ingin membeli telur dan sayur kubis tok lho iya :D. Iya bagaimana lagi lha wong tukang sayur biasa yang mangkal dekat rumah tidak jualan. 

Setelah mendapat apa yang dicari, di tengah perjalanan pulang tiba-tiba kakak ipar teringat kalau ingin beli wadah kecap, mau tidak mau kembali lagi ke pasar tadi, hahaha. Kakak ipar memang paling suka deh kalau disuruh nyetrika jalan, hahaha kalau saya mah ogah. Sampai di pasar yang dekat rumah ternyata tidak ada, otomatis harus ke pasar yang satu dengan jarak tempuh sekitar  5km dari rumah.

Perempuan emang paling suka  berlama-lama kalau milih barang, padahal cuman pilih satu dari beberapa pilihan. Iya sembari menunggu kakak yang lagi milih barang, saya menoleh kanan kiri. Siapa tahu ada yang dikenal, kek artis gitu loh. Hahaha.

Tapi pendengaran saya terganggu ketika mendengar sebuah percakapan antar dua orang. Lihat kanan kiri kok suara itu tidak terdengar, namun ternyata suara itu berasal dari depan, 2 bapak tukang becak sedang beradu pendapat. 

becak klasik
becak nemu di google

Percakapan mereka yang sempat saya dengar.
“ iku mau mbuk tarik piro tekan desane” kata bapak gendut yang sepertinya penuh emosi  
(itu tadi kamu tarif berapa sampai desanya?) 

“ aku mau rung muni kok, malah wis diwenehi Rp. 12.000 iya tak tampani wae “ kata bapak satunya yang terlihat lebih sabar
( tadi saya belum bilang, sudah diberi Rp. 12.000 iya sudah saya terima)

“ kuwe iku piyeleh? Wong ambi aku biasane Rp. 20.000 kok, malah diwenehi Rp. 12.000 mbuk tampani “ jawab bapak gendut yang terlihat makin emosi
(kamu itu bagaimana sih? Kalau sama saya aja Rp. 20.000 , diberi Rp. 12.000 kok kamu terima)

“ lha wong mek tekan desane wae kok, semunu iya wes apik ah wong cerak, mesakke “ bapak sabar pun menjelaskan.
(hanya sampai desanya saja kok, uang segitu iya sudah bagus lah wong dekat rumah, kasihan)

“ halah.. mending mau dak aluk tak tarik aku a”  bapak gendut yang masih saja terlihat emosi
(halah,, tau begitu tadi aku saja yang narik).
Bapak yang terlihat sabar tadi tidak melanjutkan percakapannya.

Melihat dan mendengar hal itu saya hanya melongo saja sih, dua kepribadian yang berbeda dalam sebuah perkerjaan yang sama.

Mungkin saja maksut bapak gendut tadi baik, supaya bapak yang terlihat lebih sabar tadi mendapatkan harga yang sama ketika bapak gendut itu yang narik. 

Tapi dengan harga segitu tadi si bapak sabar sudah merasa cukup, tanpa harus mendapatkan harga yang sama seperti bapak gendut.

Iya kembali lagi ke pribadi masing-masing, setiap orang diciptakan dengan berbagai perbedaan. Begitupun soal rejeki yang di dapat, misalkan dengan uang Rp. 10.000 si A merasa cukup, tapi belum tentu si B akan berkata demikian :)